KoranInternet.com

E-Learning

KoranInternet mulai sekarang menyajikan layanan baru kepada para pembaca, terutama kepada masyarakat akademis berupa program E-learning yang berisi paparan serial dua bidang mata pelajaran, yaitu Ekonomi Perusahaan dan Tata Buku.

Ekonomi Perusahaan
» Kebutuhan Modal Perusahaan
 

Tata Buku
»Tata Buku 10
 

Editorial
Hasil Pemilu Dan Perubahan

Sebelum pemilu hampir semua orang menginginkan pemilu akan menghasilkan Legislatif dan Eksekutif yang membawa perubahan. Perubahan yang didambakan adalah :

BISNIS & EKONOMI»
»Dampak CAFTA Di Pasar Telepon Seluler

»Windia: Pariwisata Bali Ikut Gerakkan Ekonomi Daerah Tetangga

»Prof. Windia: Kebijakan Ekonomi Tak Dukung Pertanian

POLITIK & HUKUM»
»Koalisi LSM Minta KPK Usut Mafia Kehutanan

»Kejari PPU Usut Dugaan Korupsi Dana APBN

»Buruh PT. RSM Bengkulu Tuntut Jamsostek

BERITA UMUM»
»Saatnya Indonesia Melihat Afrika Sebagai Benua Yang Perlu Digarap

»Pemerintah Tak Akan Diskriminasi Pendidikan Nonformal

»"Avatar" Digulingkan Dari Box Office Oleh "Dear John"

LUAR NEGERI»
»Dokter Michael Jackson Diancam 4 Tahun Penjara

»Korban Tewas Ledakan Di Pembangkit Listrik Sudah Lima Orang

»Indonesia Ikut Pameran Wisata Holiday World Praha

OLAH RAGA»
»Sepak Bola - Inter Perkuat Posisi Setelah Kalahkan Cagliari

»Sepak Bola - Sriwijaya FC Akan Hadapi Persebaya

»Sepak Bola - Indonesia Turun Peringkat Ke-136 FIFA

 

Pengamat: Harus ada indikator keberhasilan pembangunan daerah
Jumat, 22 Agustus 08

Jakarta, Koran Internet: Pengamat ekonomi Aviliani berpendapat pemerintah pusat seharusnya membuat semacam indikator penilaian keberhasilan pembangunan di daerah dikaitkan dengan alokasi dana dari pemerintah pusat.

"Harus ada indikator yang dapat mengukur berhasil tidaknya program-program pemerintah daerah. Indikator tersebut dapat menjadi acuan penilaian apakah daerah benar-benar mampu mengelola anggaran pemerintah," kata Aviliani, menanggapi pidato Presiden Susilo Bambang Yudhoyono saat menyampaikan keterangan pemerintah tentang Kebijakan Pembangunan Daerah pada Sidang Paripurna DPD-RI, di Gedung MPR/DPR, Jumat (22/8).

Pada pidato tersebut terungkap transfer dana pemerintah ke daerah pada tahun 2009 direncanakan Rp303,9 triliun atau naik 134,3 persen dari tahun 2004.

Anggaran tersebut bentuk Dana Bagi Hasil Rp89,9 triliun, naik 144,9 persen dari tahun 2004, Dana Alokasi Umum Rp183,4 triliun naik 123,3 persen dari tahun 2004, dan Dana Alokasi Khusus Rp22,3 triliun naik lebih dari empat setengah kali lipat dari tahun 2004.

Menurut Aviliani seakan menjadi formalitas alokasi dana ke daerah terus meningkat dari tahun ke tahun namun penyerapannya tidak maksimal dan bahkan terindikasi ada penyimpangan.

Di atas kertas, anggaran yang lebih dari cukup tersebut jelas peruntukannya akan tetapi realisasi penggunaannya tidak ada kewajiban mempertanggungjawabkan program yang ditetapkan pemerintah dan daerah.

Pendidikan untuk mengurangi buta aksara, program pemberdayaan masyarakat untuk menurunkan angka kemiskinan misalnya, tidak menunjukkan kemajuan yang signifikan, sehingga jumlah penduduk miskin dan penggangguran tidak bisa dikurangi.

Akibatnya angka kemiskinan secara nasional tidak bisa ditekan karena jumlah penduduk dengan pendapatan rendah bermunculan dari daerah.

"Ini pertanda target berbagai program pemerintah dengan yang disepakati dengan tidak jalan. Perlu koordinasi dan pengawasan yang lebih ketat dari pemerintah pusat agar tujuan pembangunan daerah mencapai sasaran," katanya.

Terkait dengan pidato Kepala Negara, Aviliani menjelaskan cenderung hanya sebatas orasi yang sifatnya sebagai kewajiban belaka.

"Saya tidak menyebutkan itu kampanye, tetapi terkesan asal ada atau yang penting antara pusat dan daerah itu dapat memenuhi kewajiban rutin yang disampaikan secara formal di depan sidang Paripurna DPD, tidak lebih dari itu. Ini harus segera dirubah "mindset"nya," katanya.

Hambat investasi

Menurut Aviliani kebijakan desentralisasi belakangan ini juga sebaiknya tidak mutlak, harus lebih fleksibel yang disinkronkan dengan program-program bersama antara pemerintah pusat dan daerah.

"Kebijakan-kebijakan tertentu terkadang tidak harus semuanya dilepas ke daerah karena yang terjadi justru banyak yang kontraproduktif dengan semangat pemerintah mencapai target ekonomi tertentu," katanya.

Ia menjelaskan, kalau seluruhnya diserahkan ke daerah tanpa ada penekanan pentingnya "roadmap" suatu kebijakan, justru memicu pejabat-pejabat di daerah mengambil tindakan yang menyimpang.

Dicontohkan, dalam kasus pengalihan fungsi hutan lindung di Tanjung Api-Api yang melibatkan pejabat pemda dan anggota dewan Al Amin Nasution menjadi preseden buruk karena tidak adanya sistem pengawasan antara pusat dan daerah.

"Kalau tidak ada niat untuk saling mengoreksi dan mengawasi bukan tidak mungkin kasus korupsi makin merebak," katanya.

Demikian halnya di bidang investasi, pemda dengan hak yang absolut menetapkan kebijakan penanaman modal di suatu daerah justru kontraproduktif dengan semangat pemerintah pusat menjarig investor sebanyak-banyaknya.

"Iklim investasi di buka lebar, tetapi terjadi penolakan di daerah. Akhirnya daya saing daerah kembali terpuruk ke titik nol. Investor akan berpikir panjang untuk masuk ke sektor tertentu karena tidak adanya kepastian bisnis dan hukum," katanya.

Aviliani berpendapat, pemerintah tidak ada salahnya belajar dari negara lain dalam hal mengelola investasi seperti China yang menempatkan suatu kawasan tertentu sebagai tempat para investor menanamkan modalnya tanpa ada hambatan dari daerah.

"Ini bisa menekan "high cost economy" (ekonomi biaya tinggi) yang selama ini terjadi di daerah akibat tidak sinkronnya kebijakan penanaman modal, termasuk kebijakan sistem perpajakan yang tidak standar," katanya.

Terkait dengan Pidato Presiden Yudhoyono tersebut, Aviliani berpendapat secara secara umum menjawab keinginan DPD akan tetapi ada catatan penting yaitu dibutuhkan langkah konkrit karena masih cenderung normatif, dan sedikit mengambang. (Mnr/Ant)

  lihat komentar (0) |   kirim ke teman |   versi cetak

Formulir Komentar

Nama
Email
Judul Komentar
Komentar

»Mobil Mewah Para Menteri Tidak Sesuai Aturan
»Dana Cadangan Penanggulangan Bencana Alam APBN 2010 Rp 3 Triliun
»Pemerintah turunkan DAK 2010 sekitar 20 persen
»Pemerintah siapkan BLU tol Rp6,5 triliun untuk tahun 2010
»Pemerintah tetap siapkan stimulus 2010


»Sepak Bola - AC Milan Sepakati Sponsor Kostum Dengan Emirates
»8.000 Perempuan Di Kongo Diperkosa
»YLKI: Perdagangan Bebas China - Asean Perlu Diawasi
»Ani Yudhoyono Kunjungi Perajin Batik Di Cirebon
»Presiden Hadiri Peringatan Hari Pers Nasional


 
Pengantar Redaksi

Dua serial tulisan yang terdahulu, yaitu Proses Terjajahnya Kembali Indonesia Sejak tahun 1967 dan Pemberantasan KKN telah lengkap kami tayangkan dalam waktu yang cukup lama.

Dalam edisi ini kami menyajikan bahasan tentang Krisis Keuangan maha dahsyat yang terjadi di Amerika Serikat, menjalar ke semua negara di dunia yang sampai sekarang masih berlangsung.

Serial lainnya berjudul "Platform Presiden 2009". KoranInternet mempunyai keseluruhan materinya, yang akan kami terbitkan dalam bentuk buku yang dapat diperoleh siapa saja yang berminat.

Dengan memuat materi yang sama dalam bentuk rangkaian artikel di KoranInternet, para pembaca dapat membacanya, sambil setiap harinya membaca berita dan peristiwa.

Pembaca E-Learning yang kami sajikan dalam bidang Tata Buku dan Ekonomi Perusahaan semakin lama semakin banyak.

Banyak terima kasih atas perhatian Anda.

Redaksi.

Analisis
GAMBARAN FRAUD DAN KEKALUTAN DALAM MENGHADAPI BANK CENTURY

Yang digambarkan dalam tulisan ini atas dasar pemberitaan, pernyataan dan analisis dari sekian banyaknya orang ...
Baca selengkapnya »

PRODUK DOMESTIK BRUTO MENGANDUNG BANYAK PENYESATAN DAN KOTORAN

Percakapan antara Djadjang dan Mamad

Para pejabat tinggi Indonesia berbesar hati, karena dalam resesi global, kondisi ...
Baca selengkapnya »

 
Tinjauan Perekonomian Indonesia, Khususnya Koperasi dan UKM

PERAN STRATEGIS PERGURUAN TINGGI DAN DUNIA USAHA MEMBANGUN KARAKTER INSAN KOPERASI GUNA MENINGKATKAN KINERJA USAHA ...
Baca selengkapnya »

 
Apa Neo Liberalisme (NEOLIB) Itu? Bagian 2

KEBIJAKAN NEOLIB DI INDONESIA

Jalan Tol


Orang-orang neolib di Indonesia lebih ekstrem dari rekan-rekan sepahamnya di negara-negara ...
Baca selengkapnya »

Seminar Krisis Ekonomi Indonesia : Keberhasilan 53 Tahun Mafia Berkeley? (Bagian II)

APA HASIL AKHIR DARI KEBIJAKAN EKONOMI OLEH TIM EKONOMI PEMERINTAH YANG SENANTIASA TERDIRI DARI SATU ...
Baca selengkapnya »

Seminar Krisis Ekonomi Indonesia : Keberhasilan 53 Tahun Mafia Berkeley? (Bagian I)

KESIMPULAN DAN RANGKUMAN

Berbeda dengan kebiasaan, saya akan mulai dengan kesimpulannya sebagai berikut.
Krisis Keuangan Global (Artikel 3)

Apa Kata Paul Krugman dan Bagaimana Perkembangan Selanjutnya?

Dalam artikel kedua kami mencoba menguraikan tentang struktur ...
Baca selengkapnya »

 
Apa Neo Liberalisme (NEOLIB) Itu? Bagian 1

Dengan dipilihnya Boediono sebagai cawapres-nya SBY, diskusi tentang "neolib" menjadi marak. Namun diskusinya tidak memberikan ...
Baca selengkapnya »

Megawati, Prabowo Dan Contoh Kasus Tentang Demokrasi Gaya UUD 2002

Halaman depan Suara Pembaruan tanggal 1 April memuat berita yang berjudul : "Megawati Gandeng Prabowo". ...
Baca selengkapnya »

Platform Presiden 2009 (Artikel 4)

Pendidikan dan Kesehatan

Betapapun terbatasnya kemampuan pemerintah menyediakan jasa pendidikan dan kesehatan, dalam batas-batas kemampuan keuangannya, ...
Baca selengkapnya »


Word of The Day

Perbaiki diri anda, tetapi jangan jatuhkan orang lain.Salanter Lipkin.


Pemilu 2009
»Gugatan hasil Pilpres harus disertai bukti akurat

»KPU harus lakukan kajian yuridis putusan MA


Mencari berita    di   
copyright 2007 - koraninternet.com | powered by IT Media Solution